h1

selamatkan dunia

November 13, 2009

Perubahan iklim sebagai akibat pemanasan Global (Global Warming), disebabkan meningkatnya emisi karbon akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbaharui). Sesungguhnya adalah negara-negara industri maju sebagai penghasil karbon terbersar penyebab utama pemanasan global itu. Namun, negara berkembang, termasuk indonesia, ikut juga berkontribusi. Terutama Indonesia sebagai negeri tropis kurang memelihara hutannya yang berfungsi sebagai paru-paru dunia. Walaupun tidak adil bila negara-negara industri maju sebagai penghasil karbon terbesar cenderung hanya menyalahkan Indonesia dan menekan Indonesia untuk memelihara hutan tropisnya, sementara mereka tidak mau ikut “membayar” pemeliharaan hutan tropis itu. Memang saat ini kemampuan serap alami hutan terhadap kandungan karbon di udara(menetralisasi buangan karbon terutama dari negara industri maju) sudah semakin menurun. Peran hutan yang sebenarnya diandalkan untuk pengendalian kenaikan suhu ataupun peredam gas rumah kaca sudah semakin tidak memadai. Dalam kondisi ini, sesungguhnya tidak berkeadilan jika sikap negara maju terus menyalahkan negara berkembang khususnya Indonesia, karena dianggap lalai menjaga kelestarian hutannya. Padahal kerusakan hutan Indonesia bukan penyebab utama emisi karbon. Yang terjadi adalah negara-negara maju memproduksi karbon secara besar-besaran, sementara daya serap alami hutan untuk menetralisasi buangan karbon itu semakin menurun. Jadi, sebenarnya yang harus dilakukan negara-negara industri maju adalah ikut bertanggung jawab mengurangi buangan karbon dan ikut membayar pemeliharaan hutan, terutama hutan tropis sebagai paru-paru dunia. Contoh konkritnya, setiap batang pohon yang tumbuh mekar di Indonesia harus dibayar “retribusinya” oleh dunia, terutama negara-negara industri maju.

Penulis: Muhammad Akmal Komara

h1

wow, inilah solusi bagi para petani tembakau

Juni 22, 2011

Selama ini, tembakau dianggap tidak bermanfaat bagi kesehatan. Tetapi kini para ilmuwan berhasil menggunakan tembakau yang dimodifikasi secara genetik untuk memproduksi obat diabetes dan kekebalan tubuh. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal BMC Biotechnology, awal Maret lalu.

Ilmuwan dari beberapa lembaga penelitian Eropa berpartisipasi dalam proyek bertajuk “Pharma-Planta” yang dipimpin Profesor Mario Pezzotti dari Universitas Verona itu. Mereka membuat tembakau transgenik yang memproduksi interleukin-10 (IL-10), yang merupakan cytokine anti-radang yang ampuh. Cytokine adalah protein yang merangsang sel-sel kekebalan tubuh agar aktif.

Kode genetik (DNA) yang mengode IL-10 ditanam dalam tembakau, lalu tembakau akan memproduksi protein tersebut. Mereka mencoba dua versi IL-10 yang berbeda. Satu dari virus, yang lainnya dari tikus. Para peneliti menemukan, tembakau dapat memproduksi dua bentuk IL-10 itu dengan tepat. Produksi cytokine yang aktif cukup tinggi, yang mungkin dapat digunakan lewat proses ekstraksi dan pemurnian.

Langkah selanjutnya, IL-10 hasil tembakau itu diberikan kepada tikus untuk meneliti seberapa efektif ia membangkitkan kekebalan tubuh. Penelitian menggunakan IL-10 hasil tembakau dalam dosis kecil dapat membantu mencegah kencing manis atau diabetes melitus tipe 1. Diabetes melitus tipe 1 atau diabetes anak-anak dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pankreas. Sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita anak-anak maupun orang dewasa.

Menurut Prof. Pezzotti, tanaman transgenik menarik untuk sistem produksi protein kesehatan karena menawarkan kemungkinan produksi pada skala besar dengan biaya rendah. “Sehingga menghindari proses pemurnian yang panjang dibandingkan dengan obat tradisional sintetis,” katanya.

Tidak sekadar sebagai obat anti-radang dan mencegah diabetes melitus tipe 1, tembakau juga bisa menghasilkan protein obat human immunodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS, yang disebut griffithsin. HIV adalah virus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya, bukan tembakaunya yang menghasilkan protein, melainkan virus tembakaunya.

”Tanaman tembakau dapat segera memperbaiki citra di mata para ahli kesehatan masyarakat,” kata para ilmuwan. Dengan bantuan tembakau, obat HIV itu dapat diproduksi dalam jumlah besar dan murah. “Ini berita yang sangat penting,” kata Polly Harrison, Direktur Aliansi Pengembangan Obat Mikrobiologi. Menurut dia, sangat sulit membuat sesuatu yang cukup menjanjikan untuk obat, bahkan dalam studi laboratorium sekalipun. “Tapi ini produksi pada tingkat skala ton obat,” tutur Harrison.

Para ilmuwan telah bertahun-tahun mengetahui bahwa obat-obatan yang dikenal sebagai griffithsin melindungi orang dari infeksi HIV karena menghentikan kolonisasi virus pada lapisan vaginal. Yang menjadi persoalan, biaya untuk memproduksinya sangat mahal. Di alam, satu-satunya sumber griffithsin adalah algae merah, yang ditemukan di pantai Selandia Baru. Mereka tumbuh dalam jumlah sangat kecil untuk dapat dipanen secara efektif.

Ilmuwan sebenarnya dapat menghasilkan griffithsin dalam jumlah lebih besar lewat rekayasa genetik pada bakteri E. coli. Namun pemeliharaannya membutuhkan suhu yang tinggi dan pengadaan bahan bakunya menjadikan panen obat dari mikroba itu tetap mahal. Sekarang para ilmuwan berpaling ke virus untuk memproduksi griffithsin.

Maka, virus mosaik tembakau (TMV) yang biasanya menginfeksi tembakau pun dijadikan alat untuk memproduksi obat HIV itu. TMV berbentuk batang, dengan lebar 18 nanometer dan panjang 200-300 nanometer. Pada tubuhnya diinjeksikan gen algae merah yang menghasilkan griffithsin. Virus TMV yang telah mengandung DNA algae merah akan menghasilkan griffithsin.

Agar hasilnya besar, generasi TMV penghasil obat itu dicampur dengan air dan disemprotkan pada Nicotiana benthamiana, sepupu tanaman tembakau komersial yang sangat rentan terhadap TMV. Setelah beberapa hari terinfeksi, daun mulai layu. Berarti virus telah menyebar ke seluruh daun. Kemudian para ilmuwan tanaman memanen, mengekstraksi, dan mengambil griffithsin murni. Penelitian itu diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, akhir Maret lalu.

“Cara paling efektif griffithsin untuk mencegah infeksi HIV adalah dengan menggunakannya dalam bentuk krim vaginal sebelum berhubungan seks,” kata Kenneth Palmer, seorang peneliti di Program Penelitian Kanker Owensboro. Griffithsin dari tembakau dalam bentuk gel telah diuji pada tikus –tikus betinanya terinveksi HIV. Dengan mengoleskan pada organ seksual, griffithsin menghentikan semua penularan HIV. Dan gel itu tidak menimbulkan efek samping, seperti keracunan, peradangan, atau iritasi. Para peneliti berharap dapat memulai satu tahap percobaan klinis pada manusia, setahun mendatang.

Memang, untuk sampai pada tahap industri, harus melewati pengujian keamanan hayati, lingkungan dan pangan, serta lolos uji klinis. “Setelah itu, baru untuk produksi bahan aktif farmasi,” kata Arief B. Witarto. Namun di Eropa hal itu akan sulit dilakukan karena banyak negara melarang pengembangan tanaman transgenik di lapangan. “Kalau di rumah kaca boleh, tapi kan tidak ekonomis,” ujar peneliti bioteknologi LIPI yang pernah empat bulan satu laboratorium dengan mahasiswa S-3 Pezzoti di Fraunhofer Institute for Molecular Biology and Applied Ecology (Fraunhofer IME), Aachen, Jerman, itu.

Menurut Witarto, di Eropa, molecular farming menjadi proyek besar Uni Eropa. “Salah satu pusat utamanya di Fraunhofer IME tersebut,” katanya. Di sana ada konsorsium besar. Para profesor dari negara-negara Eropa yang terlibat dalam konsorsium ini mengirim mahasiswa S-3-nya untuk mengerjakan penelitian itu. “IL-10 adalah salah satu targetnya, yang diketuai profesor dari Italia itu,” ujarnya.
Sumber: Gatra

h1

Tembakau Hasilkan Protein Anti Kanker

Juni 22, 2011

Tembakau tidak selalu berkonotasi negatif sebagai penyebab kanker, ternyata tanaman tersebut dapat pula menghasilkan protein anti-kanker yang berguna bagi penderita kanker, kata peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Arief Budi Witarto MEng, demikian seperti dikutip Antara.

Proposal penelitian soal inilah yang membawa Doktor Bioteknologi dari Fakultas Teknik, Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang itu meraih penghargaan dari Badan riset Jerman DAAD dan Fraunhofer di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam usulan risetnya itu Arief mencoba untuk memproduksi protein penting “Growth Colony Stimulating Factor” (GCSF) dengan menggunakan tanaman tembakau (Nicotiana spp., L.) lokal dari varietas yang paling sesuai “genjah kenongo” dari 18 varietas lokal yang ditelitinya.
Tanaman tembakau ini tidak diambil daun tembakaunya untuk memproduksi rokok tetapi dimanfaatkan sebagai reaktor penghasil protein GCSF, suatu hormon yang menstimulasi produksi darah.

“Protein dibuat oleh DNA dari tubuh kita, kita masukkan DNA yang dimaksud itu ke tembakau melalui bakteri, begitu masuk, tumbuhan ini akan membuat protein sesuai DNA yang dimasukkan. Kalau tumbuhan itu panen, kita dapat cairannya berupa protein,” katanya.

Selain untuk protein antikanker, GSCF, ujarnya, bisa juga untuk menstimulasi perbanyakan sel tunas (stemcell) yang bisa dikembangkan untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak.
Arief memang pakar di bidang rekayasa protein dan telah banyak menerima penghargaan, antara lain Paramadina Award 2005 untuk bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dari Universitas Paramadina dan PII Engineering Award 2005 untuk kategori Adhicipta Rekayasa atau Best Creation in Engineering dari PII/Persatuan Insinyur Indonesia.

Sebelumnya ia juga telah menerima penghargaan lain yaitu Science and Technology Award 2003 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) dan Peneliti Muda Terbaik Indonesia 2002 untuk bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa dari LIPI.

Ia juga pernah terpilih dengan nilai tertinggi mewakili Indonesia bersama empat peneliti muda Indonesia lainnya dengan undangan resmi dari Pemerintah Jerman untuk menghadiri Pertemuan Para Penerima Hadiah Nobel di kota Lindau Jerman.

h1

contoh naskah berita televisi

Juni 22, 2011

JUDUL : SEJUMLAH MASSA GABUNGAN MELAKUKAN DEMO DI DEPAN KANTOR GUBERNUR

HARI/TGL/JDL GAMBAR : KAMIS/7 APRIL 2011/ DEMO DIDEPAN KANTOR GUBERNUR

TC IN/OUT

(ANCHORE)

PEMIRSA/ TADI SIANG SEJUMLAH MASSA YANG TERGABUNG DALAM KOMANDO PENYELAMAT UANG RAKYAT/ MELAKUKAN AKSI DEMO DIDEPAN KANTOR GUBERNUR/ MEREKA MENUNTUT AGAR GUBERNUR BANTEN/ HAJAH RATU ATUT KHOSIYAH BERHENTI MENGGUNAKAN DANA APBD SEBAGAI DANA UNTUK KAMPANYENYA/ MASSA MENUNTUT AGAR GUBERNUR BANTEN DAPAT LEBIH MEMENTINGKAN URUSAN RAKYAT KETIMBANG URUSAN PRIBADINYA//

(PKG)

TERLIHAT SEJUMLAH MASSA GABUNGAN YANG MENGATASNAMAKAN AKSINYA DALAM KOMANDO PENYELAMAT UANG RAKYAT/ SEDANG MELAKUKAN AKSI DEMO DIDEPAN KANTOR GUBERNUR/ MEREKA MENUNTUT KEPADA GUBERNUR BANTEN UNTUK SEGERA TURUN DARI JABATANNYA SEBAGAI GUBERNUR/ DAN TIDAK MENCALONKAN DIRI LAGI PADA PILKADA NANTI/ HAL INI DI KARENAKAN GAGALNYA MASSA PEMERINTAHAN ATUT YANG SEKARANG//

MASSA MENGUNGKAPKAN BAHWA MASIH BANYAKNYA DIJUMPAI JALAN-JALAN YANG BERLUBANG/ BUKANNYA UNTUK MEMPERBAIKI JALAN YANG RUSAK TERSEBUT/ TAPI MALAH UNTUK MEMPERCANTIK DIRI SAJA/ UNGKAP SALAH SATU DEMONSTRAN YANG SEDANG BERORASI DI DEPAN KANTOR GUBERNUR//

ROLL….. ORASI SALAH SATU DEMONSTRAN…

DALAM AKSI DEMONYA SEMPAT TERJADI AKSI SALING DORONG ANTARA SEJUMLAH MASSA DENGAN APARAT KEPOLISIAN YANG SEDANG BERJAGA MENGAMANKAN JALANNYA AKSI/ MASSA JUGA SEMPAT MEMASANG BALIHO BESAR DI ATAS GAPURA KANTOR GUBERNUR YANG SEDANG DI BANGUN//

DALAM AKSINYA/ MASSA JUGA SEMPAT MELAKUKAN AKSI BERBARING DIDEPAN KANTOR GUBERNUR/ SAMBIL MENUTUP MATANYA SEBAGAI SIMBOL BAHWA SELAMA INI MASA PEMERINTAHAN ATUT SELALU MENUTUP MATA PADA KONDISI MASYARAKAT YANG SEBENARNYA//

MUHAMMAD AKMAL/ MELAPORKAN UNTUK HALLO PANDEGLANG.

JUDUL : MASSA KECEWA DENGAN KEDATANGAN KEPALA KESATUAN POLISI PAMONG PRAJA PROVINSI BANTEN

HARI/TGL/JDL GAMBAR : KAMIS/ 7 APRIL 2011 / KEPALA SAT-POL PP MENDATANGI MASSA YANG BERDEMO

TC IN/OUT

(ANCHORE)

PEMIRSA/ SEJUMLAH MASSA YANG MELAKUKAN AKSI DEMO TADI SIANG DIDEPAN KANTOR GUBERNUR MERASA KECEWA DENGAN KEDATANGAN KEPALA SAT-POL PP PROVINSI BANTEN/ PASALNYA MASSA MENILAI TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN TUNTUTAN MEREKA//

(PKG)

SETELAH AKSI MASSA TADI SIANG YANG SEMPAT TERHENTI SEPULUH MENIT/ PULUHAN MASSA MENDAPAT TANGGAPAN DARI PIHAK GUBERNURAN/ YANG DALAM HAL INI DI WAKILI OLEH KEPALA BIDANG SAT-POL PP PROVINSI BANTEN//

NAMUN MASSA MENOLAK KEHADIRAN KEPALA BIDANG SAT-POL PP TERSEBUT/ PASALNYA HAL TERSEBUT SANGAT BERTOLAK BELAKANG DENGAN KEGIATAN AKSI MEREKA/ MEREKA MENGATAKAN BAHWA MEREKA BUKAN LAH PEDAGANG ASONGAN YANG HARUS DI TERTIBKAN OLEH SAT-POL PP//

KARENA MERASA KECEWA/ MASSA PUN MEMBUBARKAN DIRI DAN MENGAMBIL ANAK TANGGA YANG DI GUNAKAN UNTUK MENAIKI BALIHO YANG BERGAMBAR IBU GUBERNUR HAJAH RATU ATUT KHISIYAH/ BALIHO TERSEBUT TERPAMPANG TEPAT DIDEPAN KANTOR GUBERNUR/ YANG SELANJUTNYA MASSAPUN MENCORET-CORET GAMBAR BALIHO TERSEBUT//

SETELAH PUAS MENCORET-CORET GAMBAR PADA BALIHO/ MASSAPUN MEMBUBARKAN DIRI DAN BERJALAN KE ARAH ISLAMIC CENTRE UNTUK BERKUMPUL MELAKUKAN KOORDINASI DENGAN DEMONSTRAN LAINNYA//

MUHAMMAD AKMAL/ MELAPORKAN UNTUK HALLO PANDEGLANG//

h1

cerpen detective

Juni 21, 2011

Meitantei School (Detektif SMA)

oleh Kei Akmal Kurono pada 04 Mei 2011 jam 0:56

Sendiri menyepi menatap semua ratapan kehidupan. Sambilku terduduk dan merebahkan badan, aku menatap langit yang tak berbintang. Terlihat begitu sepi, hanya rembulan berbentuk sabit sajalah yang jadi penghias langit. Ternyata langit masih lebih beruntung daripada aku.

Akupun menutup mataku sejenak, merenung dan mencoba untuk instropeksi diri. Sebulan sudah aku berada diSerang. Namun, belum satupun aku menemukan seorang teman yang benar-benar teman. Aku sekeluarga harus pindah ke Serang karena ayahku dipindah tugas. Beliau bekerja sebagai polisi, sebelumnya beliau adalah Wakapolres MusiBanyuasin Palembang. Susah memang punya ayah seorang abdi negara.

“Akhsan, kau bener nak melo pindah?”, temenku Kurniawan saatku hendak pindah.

Saat itu aku masih duduk dibangku SMA kelas 2. Setahun lagi padahal. Tapi, mau tinggal dimana aku jika tak ikut pindah. Berat memang kalau harus meninggalkan teman-teman. Apalagi kami sedang akrab-akrabnya.

Sebulan sebelum kepergianku, disekolahku sempat ada kasus yang menggeparkan sekolah. Ada seorang anak cewek dari kelas satu yang nyaris mati karena tergantung di kamar mandi. Ya, namanya juga bapakku polisi, naluri untuk menyelidikipun timbul dari dalam diriku.

“woy! Awas,,, bu Yuli datang, awas.”.

Bu Yuli adalah guru Pembina PMR disekolahku. Orangnya masih muda, belum nikah. seksi, cantik pula. Sempat jadi idola di kalangan anak cowok di sekolahku.

“Maaf, Akhsan. Kamu bisa minggir sebentar?”, suara bu Yuli yang memintaku untuk bergeser dari korban.

“Ah, ibu. Bawa sarung tangan bu? Ni pakai punya saya. Saya bawa dua.”.

Dalam setiap kasusnya, ayahku tak lupa selalu mengenakan sarung tangan saat sedang berada di TKP, Tempat Kejadian Perkara. Agar saat pemeriksaan tidak menghapus bukti sidik jari yang ada. Aku juga tahu dari novel detective karangan Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes.

Sementara bu Yuli tengah sibuk dengan korban, memeriksa nafas dan denyut jantungnya, akupun mulai beraksi dengan melakukan olah TKP. Dalam novel Sherlock Holmes, diperlukan peralatan seperti kuas untuk make-up dan serbuk tinta, serta media untuk menempel sidik jarinya. Dan akupun membawa itu semua.

Aku mulai menelusuri dari kenok pintu, mulut pintu, gayung, bak kamar mandi, sampai pada suatu benda sejenis pipa yang tergeletak di belakang pintu. Sepertinya memang bukan kasus bunuh diri.

“Ibu Yuli, di leher korban, ada kayak semacam luka memar tidak? Atau di bagian lain?”.

“Korban, korban. Beh, kau ni san. Lah cak detective be lagak kau nih.”

“Apa sih Kur? Eh, awas! Jangan pegang sembarangan.”.

“Ada, Akhsan ada. Di lehernya ada bekas luka semacam memar. Tepatnya di deket kepalanya.”.

“Oh begitu rupanya.”.

Akupun bergumam sendiri sambil terus menggali hipotesaku. Apa sebenarnya motif si pelaku, bagaimana cara kerjanya? Untung kamar mandinya tidak terkunci, jadi bukan kasus diruang tertutup. Sepertinya si korban sengaja tidak dibuat mati dan mudah untuk ditemukan.

“Akhsan, anaknya ibu bawa ke UKS ya buat perawatan.”.

“Oh iya bu. Sekalian byar nggak ada yang membuyarkan TKP.”.

Sebelum membawa korban ke UKS, aku menyempatkan untuk menandai TKP. Tentunya aku tidak lupa buat memberi garis batas.

Ketika di UKS aku langsung memeriksa data korban.

“Bu, cewek ini siswi kelas berapa? Ibu kenal?”.

“Oh, dia Ajeng. Siswi kelas x5. Mang kenapa san? Kamu kenal?”.

“Ah, nggak juga bu. Sudah telpon polisi bu?”.

“Akhsan, jangan deh, takut ngerusak reputasi sekolah. Tapi, coba Tanya Wakasek, boleh nggak?”.

Akupun hanya terdiam sambil terus memikirkan petunjuk apa lagi yang kurang. Aku juga merasa bahwa dari kata-kata bu Yuli tadi ada sesuatu yang janggal. Apa aku harus ke pak Wakasek? atau hanya diam saja membiarkan kasus ini ditutup mengikuti waktu yang berputar.

Tiba-tiba handphoneku berdering. Akupun langsung mengambilnya dari kantong dan mengangkatnya.

“Akhsan, ini Ayah.San, kata temen kamu disekolah ada kejadian percobaan pembunuhan ya? Gimana keadaan korbannya?”.

“Oh, Ayah. Ini yah, kondisinya sih udah mendingan. Sudah sadar tapi sedang istirahat. Yah, emang siapa yang nelepon ayah?”.

“Kurniawan temen mu. Ayah kesana sekarang ya.”.

“Jangan yah. Dari pihak sekolah nggak mau berita ini sampai tersebar keluar. Byar aku saja yang nyelidiki.”.

“AKHSAN!,,, jangan bikin ulah lagi. Jangan main detective-detective lagi. Sudah, ayah sama anak buah ayah lima belas menit lagi sampai disitu.”

“Tuuut,,, tuuut,, tuuut”.

Sepuluh menit sudah sejak ayahku menelpon. Aku masih terus menyelidiki TKP lebih detil lagi. Sepertinya ada yang mengganggu pikiranku. Seperti ada yang terlewat olehku. Tapi apa?.

“Akhsan… ada bapak kau tuh lagi diruang UKS.”,

“Oh, kau kur. Iyo agek bentar lagi. Eh, Kur sini bentar.”.

“Ado apo pulo budak siko nih.”

“Oio, budak tuh lah sadar belum Kur? Agek yo, caknyo ado yang ku lewati.”.

“AKHSAN!!!, lah sudahlah kau tuh nak main detective-detectivenyo. Ini pulo Kurniawan, samo bae lah cak Akhsan. Dasar budak duo nih. Pegilah galo. Byar pak plisi ni be yang urus. Pegi, pegi.”.

Sosok laki-laki berkumis tebal yang berseragam polisi dengan pangkat yang banyak didada atas kantong seragamnya itu membentakku. Ya inilah Ayahku. Walau kelihatannya galak beliau itu sebenarnya baik. Jujur, penuh wibawa dan nggak korupsi. Hem, rumah kami saja masih rumah dinas, ayahku juga kalau kekantor selalu naik mobil butut kami. Sebuah mobil suzuki carry, entah keluaran tahun berapa.

“Aida ni budak duo masih be disini. Pegi sana. Saro nian diomonginyo.”

“Iyo, iyo.”

Akupun langsung menuju UKS. Dan di dalamnya hanyalah Ajeng yang jadi korban dan ibu guru Yuli. Ternyata Ajeng sudah sadar, sementara itu bu Yuli sibuk di westafel tengah mencuci sesuatu.

“Bisa ku bantu bu Yuli?”.

“Oh, nggak usah san. Sudah beres.”.

Melihat Ajeng yang mulai sadar, insting menyelidikiku langsung bergerak. Aku mulai mengambil kertas dalam saku kemeja dan pulpennya. Karena Ajeng mesih terlihat shock, aku akan mulai dengan basa-basi dulu.

“Hai Ajeng. Gimana perasaannya? Udah mendingan? Kenalin aku Akhsan kelas 2 bahasa.”.

“Hai kak. Ehm, lumayan enakkan sih. Kakak tau dari mana nama Ajeng? Ini dimana kak? Kok Ajeng bisa disini?”.

Ajeng, cewek SMA kelas satu berambut lurus sebahu berkulit sawomatang dengan mata agak sipit. Dan jadi terlihat sipit saat ia melihat ke arah bu Yuli. Seperti ada sesuatu diantara mereka.

“Ajeng. Ajeng, maaf Ajeng.”.

“Ah, oio kak apa? Kak maaf, nak minum.”

“oh, agek bentar. Kur, tolong ke dapur guru minta ke pakbon teh hangat.”.

“Lah ini san tehnya dari tadi sudah di bawain sama pakbon”

“Oh ibu. Iyo bu. Nah ini minumnya Ajeng.”

Saat bel sekolah tiba, aku memutuskan untuk mengikuti Ajeng pulang. Tentu dengan ditemani teman sejatiku, Kurniawan. Mungkin kalau di novelnya sir Arthur Conan Doyle, kami adalah pasangan Holmes dan dr. Watson.

“Akhsan, ngapoi pulo kita nih ngekor budak ni? Lah dak kate kerjaan be.”

“Kau tau dak Kur? Pelakunya lah ketahuan.”

“hah? Siapo dio san?” *kepalanya sambil toleh kanan kiri.

“Kau liat itu Kur? Perempuan yang barusan naik angkot yang sama dengan Ajeng.”

“Bu Yuli? Eh, bukannya emang bu Yuli satu arah rumahnya sama Ajeng?”

“ya, kita lihat aja nanti. Taksii!!!. Ayo Kur, aku jelasin didalam taksi saja.”

Kamipun akhirnya mengikuti angkot yang di naikin oleh Ajeng dan Bu Yuli. Setelah penjelasan yang cukup panjang, Kurniawanpun dapat mengerti alas an kenapa aku memutuskan untuk mengikuti mereka berdua.

Tiba-tiba, dibelokan terakhir dekat rumah Ajeng, angkot tadi berhenti dan semua penumpang dalam angkot turun semua. Kecuali sopir angkot, Ajeng dan BuYuli.

“San, Jingok! Beh, pembajakan. Penculikan ini san. Aku telepon bapak kau ya.”

“Dak usah Kur. Agek be. Kito jingok dulu nak kemano pelaku sikok nih.”

Akhirnya, tibalah kami pada sebuah gudang kosong dekat sungai Musi. Dan kami turun jauh sebelum bangunan gudangnya. Dan melanjutkan penyelidikan dengan jalan kaki.

“Nah, jingok dak Kur? Angkot tadi”

“Oio San, plat nomornya samo. Pi, mano dio Ajeng samo buYuli? Lah dak kate di angkot.”

“Kur, kau tunggu disini. Kalau ado apo-apo, kau telepon bapakku. Aku nak masuk dulu, nak jingok ado apo dio.”

“Oke San. Hati-hati.”

Akupun mulai memasuki gudang kosong itu. Namun, tak disangka, bu Yuli sudah berdiri didepan aku.

“Akhsan, ada perlu apa kesini? Pulang sekolah bukannya kerumah, ganti baju dulu.”

“Ah, ibu. Bu Yuli sendiri lagi ngapain disini? Rumah ibu bukan disini kan? Mana Ajeng bu?”

“Ajeng? Anak yang hampir mati disekolah tadi? Hahaha, dia memang beruntung dan bukan urusan mu.”

Benar-benar menyebalkan. Sudah jelas tertangkap basah. Akupun mencoba mencari keberadaan Ajeng dengan melirik daerah sekitar. Sangat gelap, sepertinya gudang ini sudah lama nggak dipakai.

“Ada apa Akhsan yang sok ingin jadi pahlawan?”

“Udah bu, jangan pura-pura. Polisi sebentar lagi kesini. Menyerahlah bu.”

“HEH!, apa-apaan kamu. Bisa saya tuntut kamu. Nuduh orang sembarangan.”

“Hahaha, ibu ini lucu ya. Sudah kepergok juga masih saja mengelak. Ibu juga kan yang mencoba melakukan pembunuhan pada Ajeng dikamar mandi?”

Sejenak Bu Yulipun terdiam, lalu mulai melebarkan senyumannya. Sebuah senyuman sinis yang memiliki niat jahat tertentu. Entah apa itu.

“Agung!… bawa anak itu kesini.”

Muncullah seorang pria berbadan sterek, muka sangar. Rambutnya kriting kribo, seperti waktu tren tahun tujuhpuluhan. Tidak terlalu terlihat umurnya berapa. Badannya masih tegap, berkulit sawo mateng. Lalu ia pergi hilang oleh gelapnya gudang. Namun, selang beberapa menit ia kembali lagi. Kali ini ia berdua, samar terlihat seperti badan seorang cowok dengan seragam osisnya celana panjang warna abu-abu.

“Kurniawan? Hey! Apa yang ibu lakukan pada Kurniawan?”

“Teman bodoh mu satu ini sungguh ceroboh. Agung, bawa mereka berdua buat nemuin temannya yang di ruang sebelah. Hahaha.”. *sambil agak menutup mulutnya, bu Yuli tertawa puas.

Kami berduapun di bawa keruangan yang disebutkan oleh bu Yuli tadi. Dan didalamnya memang ada sopir angkot tadi, tapi masih pinsan dan Ajeng anak kelas satu itu.

“Ajeng. Gimana kondisi kamu?”

Ajengpun hanya menganggukkan kepalanya saja. Wajahnya sangat kucel, mulutnyanya rapat ditutup oleh plakban warna hitam. Bajunya sudah basah oleh air mata dan keringat, mungkin Ajeng sudah benar-benar ketakutan. Tanpa sepengetahuan bu Yuli, aku mencoba memasang tanda dengan lampu laser punyaku. Kebetulan hari sudah mulai gelap, mudah-mudahan ayah bisa melihatnya.

“AKHSAN!!!…”

Tiba-tiba terdengar suara ayahku dari luar gudang. Dan sepertinya terdengar suara pantulan bola yang sedang berusaha ditendang kearah jendela dari luar.

“AKHSAN!!!… TANGKAP BOLANYA!…”

Haha, ternyata emang suara bola. Ternyata ayah masih tau kalau aku suka sama bola. Bolapun meluncur lewat jendela, dan ku tangkap dengan dadaku untuk kemudian melakukan firsttime shoot. Dan bola tadi mengenai bu Yuli.

Sementara itu, algojo berbadan sangar tadi mencoba buat menusukku dengan pisau. Untung aku pernah ikutan Aikido, jadi aku tau sedikit tekhnik dasar Aikido. *bergerak mengelak tikaman pisau lalu mengeluarkan tekhnik Aikido ku. Si algojo itupun akhirnya tersungkur ketanah.

“Woy, Akhsan. Udah belum?”

“Lah beres yah.”*aku mendekat kearah bu Yuli.

“Gimana bu? Menyerahlah. Aku sudah tau siapa ibu sebenarnya.”

Tanpa bicara sepatah katapun, bu Yuli hanya tersenyum.

“Menyerahlah. Polisi sudah diluar.”

*terdengar suara orang berlari mendekati pintu ruangan tempat kami di sekap. Dan pintupun akhirnya di dobrak.

“JANGAN BERGERAK!… POLISI. TEMPAT INI SUDAH DIKEPUNG! MERAPAT KE TANAH! Opsir Jana, borgol mereka.”

“Ayah.”

“Dasar anak bodoh.” *ayahku, sambil memukul kepalaku dengan pentungan polisi.

“Auw,,,”

Kasuspun ditutup. Semuanya selesai dan tak ada yang tersembunyikan lagi. Hem, ternyata kasusnya adalah hanya karena bu Yuli ingin menikahi bapaknya Ajeng. Ajeng sudah ditinggal meninggal oleh ibunya sedari kecil. Dan Ajeng tidak suka sama bu Yuli.

Sejak itu, namakupun mulai terkenal seantero Sumatra Selatan. Kasus demi kasus berhasil aku pecahkan. Tentunya bersama teman terbaikku, kini aku memanggilnya dengan Watson Kurniawan. Hingga akhirnya sekarang, aku harus pindah ke Banten. Karena harus ikut bapakku yang dipindah tugasnya ke Banten. Hari-hari aku lalui seperti orang biasa. Tanpa si Watson Kurniawan, sahabat karibku. Mungkin di Banten ini aku nggak akan menemukan teman seperti Kurniawan. Sampai ketemu lagi sobat.

*sambil memandangi bintang-bintang dari kamarku melalui jendela kamar. Terbayang senyumanku bersama sobatku yang berhasil memecahkan kasus.

Sayonara boku no tomodachi. Ja matta ne.

h1

cerpenku

Juni 21, 2011

Sang Detective

oleh Kei Akmal Kurono pada 04 Mei 2011 jam 0:59

Dikota Serang pagi ini turun hujan. Hal yang jarang terjadi selama sebulan lebih belakangan ini. Hari ini hari minggu, biasanya orang-orang pada olahraga di alun-alun kota Serang. Baik alun-alun timur maupun barat biasanya padat merayap. Dan di alun-alun barat pastinya padat dengan pasar kaget. Ya lumayan memanfaatkan timing yang pas.

Agendaku pagi ini sebenarnya ada acara di ball room hotel le dian. Acaranya Ormas baru untuk komisariat Banten. Aku mendapat undangan khusus tamu VIP.

Tok, tok, tok, tok. *terdengar suara pintu kamarku di ketuk.

“Ya, masuk.”.

“Heh, Jamal. Sudah siap belum? Lama banget sih dandannya.”.

“Eh Ria. Iya nih sudah siap.”, *sambil merapikan dasi yang kupakai didepan kaca.

Ria Damayanti, teman sekelasku di SMA. Ehm, kami sebenarnya masih kelas tiga SMA, bahkan baru naik di kelas tiga. Ya, berkat ayahku yang seorang pengarang novel detektif, aku jadi terbawa-bawa. Karena hujan sudah reda, Kami berduapun pergi ke hotel dengan mengendarai sepeda. Sekalian kampanye go green. Tentunya di belakang sepeda kami tegantung tulisan bike to school.

Sesampainya didepan hotel, aku langsung mendapat suguhan orang berkerumun. Bahkan sudah ada tanda garis polisi di sekitarnya. Ternyata baru saja terjadi sebuah kasus.

“Pak, ada apa ini?”,*sambil menepuk kepada seorang petugas polisi yang sedang memasang garis polisi.

“Oh, ini. Tadi ada orang yang mencoba menembak pak menteri waktu beliau baru saja turun dari mobilnya. Tapi untungnya meleset. Sementara di pasangi garis polisi dulu untuk mencari bukti”.

“Terus pak menterinya bagaimana pak?” * sambil bertanya-tanya matakupun mencoba memperhatikan sekitar TKP.

“Sudah di amankan dalam kamar, mas ini siapa ya?”.

“Panggil saja Jamal. Detective.”. *pandanganku mulai focus menyisir tiap sudut hotel.

Tanpa terlalu menghiraukan polisi yang sedang bertugas, aku langsung melangkahkan kaki untuk olah TKP. Tentunya dari kantung celana sudah aku siapkan sarung tangan lateks, agar sidik jariku tidak menutupi kemungkinan sidik jari si pelaku.

Dari depan pintu masuk, tempat dimana kejadian terjadi, aku mencoba masuk menuju lobi. Untuk menanyakan siapa saja yang menjadi tamu dalam acara hari ini. Dan ada hubungan apa saja dengan pak menteri. Kenapa bisa lolos penjagaan? Pasti sudah direncanakan.

“Jamal, aku main di tinggal saja. Hem, si maniak cerita detektif sepertinya mulai beraksi nih.”,* bersedakep dan sedikit menggembungkan pipi tanda kesal.

“Ah Ria, kamu kayak yang nggak tau aku saja. Sebentar, tolong pegangin helm sepeda aku.”.

Matakupun mulai melihat-lihat nama-nama dalam daftar hadir. Hampir semuanya punya hubungan dekat dan memiliki kepentingan dengan pak menteri. Merasa kurang untuk membuat hipotesa, aku mulai menyisir pinggir hotel. Dan pandanganku pun tertuju pada sebuah tong sampah yang berada di parkiran samping gedung.

“Hem, ternyata ia memakai ini. Masih amatir ternyata.”, *memungut benda tersebut dan menaruhnya dalam tas punggung. Tentu sudah ku bungkus dengan plastik.

“KYAAAAAAAAAAAAAA,,,”*suara jeritan dari dalam hotel.

Akupun langsung berlari menuju sumber suara berasal. Dan kudapati seorang pelayan perempuan yang terduduk dilantai di depan sebuah kamar hotel.

“Kenapa mba’?” *kurangkul tangannya dan kubantu dia untuk bangun.

“Maaaatii,,, ada mayat dikasur itu.”.* wajahnya terlihat benar-benar pucat.

Akupun langsung melihat isi dalam kamar, sambil ku bopong pelayan perempuan tersebut. Perlahan kami memasuki kamar, dan anehnya sosok mayat yang dilihat oleh pelayan tadi sudah tidak ada. Hanya berkas darah saja yang tertinggal membekas menodai sepray dan selimut hotel.

Pelayan itupun hanya bisa terdiam melototi apa yang terjadi dan matanya mulai meneteskan air mata sangking ketakutannya atas kejadian yang ia alami.

“JAMALLLLL,,,,”. *suara Ria yang teriak dari belakangku

“Eh, Ria. Kebetulan, tolong temenin mba ini. Barusan ia melihat mayat di atas kasur ini dan tiba-tiba menghilang saat kami mencoba masuk.”. *mataku trus terjaga sambil memperhatikan tiap sudut kamar.

“Ria, tolong panggil Briptu Udin didepan ya.”. *memegangi bercak darah dengan tangan yang sudah memakai sarung tangan.

Ada yang aneh dari kasus ini, di sembunyikan dimana mayat tadi sama si pelaku? Bagaimana cara memindahkannya? Siapa yang di bunuh?

“Jamal, bagaimana kejadiannya? Terus, mayatnya kemana?”* Sosok Pria bertubuh tinggi besar berseragam polisi lengkap dengan berbagai lencana penghargaan di dada kanannya.

“Oh, anda ternyata pak komisaris polisi resort Serang bagian kriminal dan pembunuhan, Pak Bambang Pradopo. Ehm, kurang tau aku juga. Tadi kata pelayan itu diatas kasur ini tergeletak mayat. Namun hilang begitu aku masuk.”.

“Aneh memang. Bagaimana si pelaku bisa dengan cepat memindahkan mayatnya? Lalu bagaimana hipotesa mu Jamal? Percuma kau dijuluki Detektif SMA.”.

Benar juga yang dikatakan pak Bambang. Celaka, seperti ada yang mengganggu pikiranku. Sepertinya ada yang terlewat olehku tadi. Arghhh, kenapa ini? Sepertinya aku pernah menjumpai yang seperti ini. Tapi apa?

“Ada apa ini ribut-ribut? Bagaimana acara Rakernasnya? Saya masih punya jadwal lainnya yang sudah menunggu.”.

“Oh, Pak Mentri. Saya Bambang, Komisaris Polres Serang bagian Kriminal dan Pembunuhan. Serahkan ini semua pada kami pak. Pasti segera diselesaikan.”.

Cih, yang begini ini yang bikin Negara makin bobrok.*melepas sarung tangan dan mencoba mendekati Pak Mentri. Namun,selang dua langkah dari posisiku beranjak. Aku melihat sesuatu.

“Jadwal apa Pak Menteri terhormat? Saya rasa ini ada hubungannya dengan nyawa anda pak. Jadi, sebelum ini selesai. Saran saya bapak tidak usah kemana-mana dulu.”.

“Ha, ha, ha, ternyata putranya Hasan juga ada rupanya.”, *tertawa lapas lalu menatapku dengan tatapan sinis.

“Pak komisaris, sepertinya aku tahu siapa korban kali ini. Dan dimana korban disembnyikan. Dia ada disebuah tempat di ruangan ini yang luput dari pandangan kita. Lima belas menit lagi kumpulkan para tamu di ball room. Akan aku jelaskan. Aku mau olah tkp sekali lagi untuk tahu siapa pelakunya.”.

Seperti yang telah aku rencanakan. Semua tamu Rakernas sudah pada kumpul di dalam ball room. Akupun melangkah perlahan kedepan sambil memegangi sebuah gelas yang telah aku isi dengan cairan penetral warna darah. Sehingga dalam kondisi ruang gelap, bercak darah yang sudah di samarkan dapat terlihat jelas. Dan akupun dengan skenarioku, aku mencoba menumpahkan cairan tersebut pada kemeja yang dikenakan oleh sosok pria berbadan gendut yang sedari tadi sibuk membicarakan jadwalnya.

“HEI!, Anak Hasan!!!. Apa-apaan kamu? Kamu tau berapa harga kemeja ini? Mungkin nggak akan bisa kebeli dari uang hasil jual novel bapakmu. Ingat itu.”.

“Oh, aku minta maaf. Byar nanti aku laundry kemejanya. Sekali lagi maaf.”.

“Huuuuuu,”. *sontak seluruh tamu peserta Rakernas mensoraki tindakanku tadi.

“Oh, sorry para bapak dan ibu peserta Rakernas. Ada kesalahan kecil.”. *langsung melangkah ke arah dekat podium.

“Ya, terima kasih atas waktunya yang di berikan kepadaku. Dan mohon maaf kepada pak Menteri soal yang tadi. Sebelumnya, bisa minta redupkan lampunya sebentar? Karena aku akan menjelaskan pakai slide.”.

Lampu ruanganpun telah di redupkan dan pak Menteri masih belum sadar dengan cairan yang kutumpahkan tadi. Byarlah, aku jelasin dulu hipotesaku.

“Nah, seperti yang terpampang pada slide disamping. Ini adalah foto korban yang aku ambil tadi. Bisa dilihat dipojok kanan bawah gambar ada jam dan tanggal aku mengambil fotonya. Ok. Pertama aku akan menjelaskan identitas korban. Pria ini adalah seorang wartawan dari sebuah stasiun televisi nasional. Bisa dilihat dari kartu pers yang ada dekat saku kanannya.Dia terkenal sebagai wartawan yang kritis. Hampir semua kasus korupsi dan penyelewengan berhasil ia kupas. Jadi wajar jika dia menjadi sasaran pembunuhan kali ini. Dan ku rasa motif pelaku membunuhnya ialah tak jauh dari kasus yang belakangan sedang ia liput. Tak lain adalah kasus korupsinya pak menteri yang sedang hadir dalam acara Rakernas kali ini. Bapak Norman Hidayat.”.*Tangan kananku menunjuk kearah Pak Menteri yang terkejut saat aku menyebut namanya.

“Pak Menteri, anda jugalah pelaku pembunuhan atas wartawan ini.”.*tersenyum puas karena kasus hampir selesai.

“Heh! Kau anaknya Hasan! Jangan sembarangan ya kau menuduh orang. Bisa saya tuntut nanti.”.*mukanya langsung saja berubah menjadi pucat.

“Bukti? Itu ada pada kemeja bapak. Cairan yang aku tumpahin tadi adalah cairan penetral warna darah. Walau sudah di keringkan, nodanya justru akan muncul setelah di keringkan. Butuh bukti yang lain? Team forensik akan menemukan sidik jari anda pada pakaian korban.”.

Orang gendut itupun hanya bisa terduduk lemas. Sepertinya ia menyesali perbuatannya. Kasuspun ditutup Norman Hidayat pun langsung di bawa oleh pihak berwajib. Lalu, si penembak tadi pagi yang hampir mencelakakannya ternyata adalah orang suruhannya sendiri. Sebagai alibi untuk rencana pembunuhannya. Akhirnya aku dan Rai dapat pulang kerumah masing-masing dan besok kami sudah menjadi siswa SMA biasa lagi. Tentunya jika terjadi kasus, naluri detektifku akan dengan cepat mencium baunya.

h1

Teknologi Sony Perekam Suara Terbaru

Januari 25, 2010

Info kali ini datang dari dunia gadget. bagi kalian yang sangat menyukai mengoleksi gadget-gadget terbaru dan sangat hightech,,,, ada info baru nih. datangnya dari informasiteknologi.com.
Sony menghadirkan perekam suara terbaru. Perekam seri ICD-SX ini menampilkan berbagai pilihan warna, kualitas merekam yang baik dan kapasitas menyimpan hingga 8 GB.

Selain itu, seri ini juga terintegrasi dengan fungsi Noise Cut baru yang secara efektif mampu meminimalisasi suara bising kecil maupun besar sehingga mendapat kualitas audio playback yang lebih jelas. Seri ini tersedia dalam berbagai warna yang sangat pas dengan laptop VAIO seri Z dan CS secara sempurna.

“Sony terus berusaha meningkatkan kemampuan perekam suara. Dengan kehadiran seri SX yang dilengkapi dengan fitur noise-sensitivity, mampu meningkatkan kualitas merekam sehingga hasilnya lebih tajam, realistik dan alami,” ujar Kazuo Sawachi GM Marketing Division Head PT Sony Indonesia, melalui keterangan resminya, Sabtu (2/1/2010).

Seri SX terbaru digunakan untuk merekam wawancara, rapat dan liputan siaran langsung, seri ini memiliki kualitas merekam dalam Linear PCM (44.1kHz/16bit) atau format MP3 Stereo.

Seri SX juga dilengkapi dengan tiga mikrofon uni-directional, sehingga meningkatkan sensitifitas mikrofon. Mikrofon uni-directional juga mengurangi suara bising di dalam ruangan secara signifikan, dan dapat menangkap rekaman secara tepat dari seluruh arah.

Selain itu seri SX ini juga menampilkan fungsi Noise Cut yang baru, yang mampu menurunkan frekuensi rendah dan tinggi dari suara bising yang diakibatkan peralatan elektronik seperti proyektor, dan memudahkan mendengar suara manusia saat diputar kembali.

Selain berfungsi sebagai pemutar MP3 dan format WMA, seri SX yang begitu multifungsi ini juga memberikan opsi untuk merekam dalam bentuk MP3 stereo, memudahkan proses pengubahan file pada saat ditransfer ke komputer. Seri SX yang didesain untuk penggunaan bisnis, juga memiliki perekam mikrofon telepon eksternal yang memungkinkan pengguna untuk merekam wawancara ataupun conference call melalui telepon.

Pengguna dapat merekam dengan lima setting seperti dictation, meeting, sensitive, music dan manual, sehingga memudahkan mereka untuk merekam musik dengan kualitas optimal.

Seri SX memiliki desain yang menawan dengan finishing mengkilat. Seri ini memiliki kapasitas yang lebih besar dari seri sebelumnya, yakni kapasitas 2GB, 4GB dan 8GB , sehingga mampu menyimpan musik, klip, hasil wawancara dan performance track yang lebih banyak. Waktu hidup baterai pada seri SX juga mampu bertahan hingga 19 jam.

h1

Facebook Meluncurkan Fitur Resmi Update Twitter

Januari 25, 2010

Wow, buat kalian yang senang berselancar di dunia maya. berteman dan berinteraksi didunia maya. Kini anda tidak perlu khawatir akun yang telah anda buat di beberapa site pertemanan anda akan hangus.
Facebook dan Twitter sebenarnya saling bersaing dalam hal fitur. Namun Facebook mengeluarkan kejutan dengan membuat fasilitas resmi untuk mengirimkan update status, links, foto, catatan dan sebagainya dari Halaman Facebook ke Twitter. Fitur ini hanya ada di Halaman Facebook (Facebook Page) dan bukan di profile.
Untuk mengaktifkan silakan menuju http://www.facebook.com/twitter. Jika Anda mempunyai banyak Halaman Facebook maka setiap halaman bisa dikirim ke akun Twitter yang berbeda. Selain itu akan ada pilihan apa saja yang akan diteruskan ke Twitter. Hasil di Twitter akan seperti dibawah ini. Di bagian pengiriman tertulis from Facebook.
Sayangnya fitur ini hanya ada di Halaman Facebook bukan di Profile. Jadi memang tidak bisa dipakai dalam Facebookan sehari-hari.

Semoga Bermanfaat