h1

Basket dan Harapan

November 13, 2009

Muhammad Akmal Komara

Hari terakhir pertandingan Liga Basket se-Salatiga. Tiga sekolah yang masih tersisah dan berhasil masuk kebabak selanjutnya, Theresiana High School, Laboratorium High School, SMAN 2 Salatiga.
“Aku harus lebih berusaha lagi……”, Ara, pemain dari team SMAN 2 Salatiga.
PRIIITTTT!!!!!!!!!…….., pertandingan penentuan kandidat yang akan lolos kebabak final dimulai. Masing-masing team mulai memasukin lapangan.
Suara riuh dan teriakan dari para pendukung teampun turut menambah ketegangan dalam lapangan.
“Ayo semangat!?!….. kita kalahkan musuh kita…..”, Solikin, pemain Shooting Guard team SMAN 2 Salatiga.
Bolapun mulai dilambungkan wasit, Ara, yang berada pada posisi center sedang bersiap-siap mengambil bola. Dan pertandinganpun dimulai.
Diquarter pertama pertandingan aku harus puas duduk dibangku cadangan. Sambil memperhatikan tekhnik yang dimainkan oleh lawan kami kali ini.
“Hm…. Ini tidak akan sia-sia. Latihan yang telah aku lakukan selama ini…..”, keluhku.
Sudah hamper sebulan ini aku pusatkan waktuku untuk latihan dengan sangat keras.
“Mal, ngapain lo?”, Nita, teman sekelasku yang memergokiku saat sedang latihan diSekolah.
“Oh, elo Nit. Ini, latihan buat ntar”. Balasku sambil memegang bola.
“Cie-cie, yang semangat ya!”.
“Nita, lo bias main basketkan? Main bareng yuk”.
“Ra gelem, males ah….”, jawabnya sembari berlari mengelilingi lapangan.
“Ayolah…..”, Balasku sambil melakukan shooting three point.
Nitapun tidak menjawabnya, ia asyik dengan larinya itu. Lalu, tak lama kemudian Dwi datang, teman satu team sekaligus teman seperjuanganku.
“Jam!!!!…..”, teriaknya memanggil namaku dengan lafal Inggrisnya. Tanpa berpikir lama aku langsung membalas sapaannya itu.
“Yo!!!…, wah tumben wes tangi”, bahasa Jawaku dengan logat Palembang yang masih sangat kental.
“He, kan demi untuk yang sangat amat penting dong”, balasnya dengan bahasa Indonesia yang blepotan. Ditambah logat Jawanya yang masih terdengar sangat kental, hingga memberikan kesan gaul yang dipaksakan.
“Jam…., cie, siapa tuh? Wah, ketok’e waktune ra tepat ya”, godanya sambil menatap pada Nita.
“Nita, mangnya napa? Cemburu ya?, balasku dengan muka dengan mimik yang sedikit memerah. Wah, dasar sial. Dengan warna kulit seperti orang china seperti ini, pastinya mimic mukaku bakal terlihat jelas oleh ini anak.
“Duh,…., Jamal…..Jamal. Nama doang lo bagus, tapi yang di dalam sini, jelek”. Ledeknya sambil nunjuk-nunjuk kea rah dadaku yang penuh dengan keringat.
“Eh,jangan pegang – pegang dunx…”
“Duh,sebegitunya…., tak undang yo Nitanya gen rene. Nit…”, Teriaknya pada Nita sambil melambaikan tangan. Nitapun menoleh kearah kami dan menghampiri kami.
“Iya”. Dengan suara kecilnya ia membalas teriakan Dwi.
“Woy!!??!… orang gila lo! Gimana tuh, anaknya kemari”. Ucapku.
“He, ini loh Jamal….. Hmmppp”, Ha.ha.ha. Mulut Dwi keburu aku tutup. Dan dia tidak akan macam-macam lagi.
“Iya, kenapa? Ih…, kok pake tutup – tutup mulut segala sih. Jadi penasaran nih”. Nita yang tiba – tiba sudah ada didepan mata kami.
“Ah, kagak kok…, udah ah, latihan yuk wi”, balasku sambil menarik tangan dwi untuk mengalihkan perhatian Nita.
Sambil berjalan aku terus – terusan menceramahi Dwi yang hampir saja mempermalukanku depan Nita. Dengan tangan yang kurangkul pada lehernya aku sedikit mencekiknya.
“Dwi Anggara, inget ya. Jangan ngomong yang aneh – aneh kalau lagi di depan Nita. Awas lo!”, ancamku sambil melempar bola kea rah ring.
“Jam, tapi kan kasihan Nita. Kayaknya dia naksir lho ma elo”, ocehnya sambil terus memperhatikan Nita.
“Jam…,”.
BUUKK!!!?, suara bola basket yang aku lempar kearah Dwi untuk menghentikan komat-kamitnya itu.
“Auww…, sakit bego. Awas lo”. Ancamnya.
Namun, aku sama sekali tidak menghiraukan ancamannya itu. Aku justru membalasnya dengan menjulurkan lidahku ke arahnya. Dwi pun menambil bola basketnya dan membalas melempariku dengan bolanya itu.

Sorenya dirumahku. Aku baru selesai dari latihanku. Ibu dirumah sudah menyiapkan air hangat dan makan malam. Rumahku yang cukup sederhana ini…., ehm, bukan. Rumah dinas yang cukup nyaman ini. Yang sudah hamper lima tahun kami tempati masih terlihat rapih dan bersih. Dengan penataan dan penenpatan perabotan yang tepat sehingga enak untuk dipandang. Ya, tentunya semua itu berkat jasa ibuku yang selalu memperhatikan dan memiliki kepekaan yang tajam soal kebersihan rumah. Hem, aku punya adik dua. Satu cewek, yang satu lagi cowok. Lalu, bapakku yang belum pulang dari main tenisnya. Jadi kami semua sekeluarga 5 orang.
“Kakak, dah mandi belum? Itu air panasnya sudah ibu siapkan. Nanti keburu dingin loh…”, suara ibuku yang terdengar begitu nyaring di telingaku.
“Iya bu. Ini baru aja mau kekamar mandi”. Balasku sambil mengambil handuk di jemuran kecil yang ada di sebelah pintu kamar mandi.
“Kak, sini… Ade bawa game baru dari teman”, bisik ade laki-lakiku sambil menunjukkan game PC yang baru ia pinjam dari temannya.
“Agek ah…, nak mandi dulu”, balasku sambil mengusap-usap rambutnya yang lurus.
“Iqlal…, jangan ganggu kakakmu. Biarin dia mandi dulu”. Lagi-lagi suara ibu yang mendamaikan hati kembali terdengar.
Selesai aku mandi, dan tentunya dengan pakaian tidurku, aku membaringkan badanku di atas kasur kapukku sambil membuka-buka buku pelajaran esok hari.
Baru habis satu halaman yang ku pelajari, wajah Nita yang cantik dan oriental itu muncul di halaman selanjutnya. Sambil tersenyum ia melambaikan tangannya padaku. Senyuman manis dengan lesung pipinya itu membuat matanya yang sipit seolah terpejam. Akupun membalas senyumannya itu.
“Jamal…”, bisikan suara yang terdengar sangat pelan memanggil namaku.
“Ah,…., iya”. Jawabku dengan nada yang terkejut dan terbangun dari lamunanku.
Akupun terdiam sejenak, lalu membenarkan posisi bantal dan seprai kasurku untuk kemudian pergi tidur. Hingga akhirnya mataku terpejam.

Paginya di sekolahan, aku berlari menuju ruang kelasku. Hari itu aku bangun kesiangan. Sambil menaiki anak tangga satu-persatu aku mempercepat langkahku.
Tak jauh dari ruang kelasku, aku melihat Nita baru saja masuk sambil membawa buku absent. Suara gaduh di dalam kelas terdengar begitu jelas dan terhenti sejenak saat aku mengetuk pintu dengan pelan. Sepi, benar-benar jadi diam. Akupun langsung membuka pintu tanpa berpikir panjang lagi. Suasana menjadi sangat sunyi saat aku masuk hingga….
“HUUU…..”, suara sorak-soray teman sekelasku yang menjadi lebih gaduh dari sebelumnya.
“Ha?…..”, balasku dengan suara pelan sambil menutup kembali pintu kelas.
Aku meneruskan langkahku menuju bangku tempatku duduk. Tepat dibelakang kursiku, Nita telah duduk dengan begitu manis. Seperti biasanya, ia memang anak yang murah senyum. Ehm, kali ini ia tampak lebih cantik dengan jilbabnya. Ha? Jilbab?. Ya, pagi itu aku melihat Nita sudah mengenakan Jilbab. Kok, tumben. Tanpa basa-basi lagi dan di dorong oleh rasa penasaran ku akupun menanyakannya pada Nita.
“Nita….”.
“Eh, Jamal. Baru datang ya? Wah, pasti kemarin capek banget ya? Eh, pak ari tidak datang. Beliau ada penataran di Semarang. Jadi katanya olahraga sendiri.”. Potongnya dengan mantra yang langsung membuatku skakmat tidak bisa berkata lagi.
Dengan gayaku yang sedikit sok cool aku langsung saja duduk dan membuka-buka buku pelajaran selanjutnya.
Suara bell sekolah pun berdering dua kali. Tanda pelajaran hari ini telah usai. Ketua kelas mulai sibuk mengumpulin tugas dari guru. Menarik satu-persatu kertas tugas teman-temanku. Ada yang sewot, ada juga yang ngasih duluan sebelum ditagih. Kelas pun bubar dengan suara yang gaduh.
Tak lama saat aku masih mengepak-ngepak isi tas ranselku, terdengar suara peluit pelatih basketku dari lapangan bawah. Hari itu kami ada latihan mendadak. Aku sedikit mengintip dikaca untuk memastikan jumlah anak-anak yang sudah datang.
“Jamal duluan ya….., ehm, masih ada latihan ya? Yang semangat ya”. Suara Nita yang memberiku sapaan selamat pulang. Akupun hanya membalasnya dengan anggukan kepalaku.
“Duluan ya. Assalamualaikum”. Lanjutnya serentak teman-temanya.
“Wa…., wwa…”, mulutku yang mencoba membalas tapi tidak bisa.
“Alaikum salam… woy! Jawab yang bener. Wa… wa…., dosa loh”. Suara Dwi Anggara yang datang tiba-tiba didepanku.
“Eh, elo wi? Bukannya disuruh kumpul? Kok malah disini? Lagiyan, bukannya kelas lo lagi ada ulangan?”. Balasku.
“Oh, tentu sudah. Dwi gitu loch…” sambil menepuk dadanya yang bidang.
Walau sehebat apapun caranya pamer ke aku, mataku tetap tertuju pada sosok Nita yang sudah mengenakan jilbab.
“Waduh, piye toh iki? Wong didepannya ada orang sekeren aku kok matanya malah mlirik-mlirik ke yang lain toh?”, Dwi yang kesal karena tidak aku perhatikan aksi pamernya.
Kamipun langsung bergegas menuju lapangan. Dan mendengarkan intruksi dari pelatih. Intruksi dari pelatih telah usai dan waktunya buat kami untuk latihan yang intensif. Latihanpun dimulai, team inti melawan team official. Ara dan aku masing-masing menjadi center dan pointguard. Latihan pemanasan dimulai.
Bola diposisi kami. Dwi Anggara mendrible bola. Dengan rasa percaya dirinya, ia melakukan lay up dan berhasil memasukkan bola kedalam ring. Angka 9 – 10. beda satu angka. Kini bola dipegang team official, Ara merebutnya dan mendriblenya. Ia dihalangi oleh salah satu team official. Akupun memberi kode kepadanya. Namun, disaat yang bersamaan aku melihat Nita sedang jalan berdua bareng ketua Rohis kami. Mataku terus tertuju padanya dan tak berhenti bertanya-tanya masalah hubungan mereka berdua.
Karena tidak konsentrasi pada latihan, bola yang tadinya di oper ke arahku mengenai kepalaku dengan cukup keras. Ara yang memberikanku bola tadipun memarahiku.
“Jamal! Lihat bolanya dong. Niat latihan nggak sih? Minggu depan itu semifinal, kita harus bisa juara tahun ini. Minimal masuk final…. Inget kata pelatih… kita harus mengharumkan……”. Ara kapten team basket kami tak henti-hentinya berceramah. Sosok badannya yang tinggi besar sedikit membuatku gemetaran.
“Arrgghh…. Berhenti napa. Dari tadi ceramah mulu. Kupingku panas nih…”, balasku. Lalu, tanpa terus menghiraukan ocehannya itu aku langsung mengambil bola dan sudah pada posisi untuk melakukan passing.
“JAMAL!?!!…. Pertandingan besok kamu masuk cadangan”. Balasnya lagi dengan kata-kata cukup pedas dan membuatku mati rasa.
Aku kemudian mengambil bola dan melemparnya tinggi-tinggi.
“Itu ambil sendiri. Aku duluan”. Sambil mengambil handukku yang tergantung ditiang ring basket, dan meninggalkan latihanku.

Esok harinya disekolah, aku melihat Nita berdua dengan ketua rohis didepan masjid.
“Cih…., aktifis masjid malah pacaran”, ocehku karena kesal melihat tingkah Nita.
“Woy!!! Jem, lagi apa tuh? Eh, wah… gawat tuh…., ngapain tuh pak ustadz?”, Dwi yang tiba-tiba muncul dibelakangku mengagetkanku sehingga bola basket yang tadinya ku pegang terlepas dari genggamanku. Suara pantulannyapun menggaung sehingga membuat Nita menolehkan wajahnya. Aku yang sadar sudah ketahuan sama Nita, memutuskan untuk langsung beranjak begitu saja.
“Jem, gimana nih? Wey, bolanya ndak dibawa toh? Weleh, malah ditinggal. Woy…, Jemal…,”. Dwi yang terus mengoceh melihatku yang pergi begitu saja.
Setelah kejadian itu, aku langsung memutuskan untuk kelapangan basket dan kemudian memusatkan perhatianku pada latihan.
“Loh, bolanya man……,?”, sambil melihat kearah tanganku yang sudah tidak memegang bola kesayanganku.
“Jem, ini bolanya. Malah ditinggal, gimana toh? Emangnya bolanya bisa jalan sendiri? Hebat dunx,…, baru nemuin aku bola kayak gini. Beli dimana tuh?” Dwi yang tiba-tiba muncul dengan mantra khasnya.
“Siniin. Gua mo latihan. Minggu depan semifinal. Gua harus jadi juara, dan…, menjadi MVP tahun ini”. Ucapku sambil menshoot bola yang sudah ku pegang kembali.
“Oh, gitu ya…, oke! Aku ikut latihan juga ya. He, kan satu team”. Balasnya.
Hari itupun aku latihan keras berdua dengan sobatku Dwi. Jiwaku terbakar oleh api semangat untuk menggapai impianku untuk menjadi MVP tahun ini.
Setiap hari sepulang sekolah yang kukerjakan hanyalah latihan, latihan dan latihan. Setiap hari aku pulang kerumah dengan selalu membawa oleh-oleh keringat latihanku. Walau harus puas duduk di bangku cadangan selama dua quarter. Ini tidak akan mematikan semangatku. Tidak lagi perlu memikirkan cewek dulu. Cewek dimana-mana sama saja. Suka bikin pusing.

Pertandinganpun masih berlangsung setelah sekian jauh lamunanku membayangkan usaha kerasku selama ini. Baru saja quarter kedua, satu quarter lagi aku turun kelapangan. Menjadi pemain inti dan menjadi MVP tahun ini.
PRIIIIITTTT!!!!!!!!
Ha? Suara peluit ditengah pertandingan?, Tanyaku dalam hati.
“JAMAL!!! SIAP-SIAP, ARA CIDERA”. Teriak pelatih yang membuyarkan lamunanku.
Dengan sigap, aku langsung melakukan pemanasan guna melenturkan ototku yang kaku.
Pertandinganpun semakin memanas. Theresiana High School mulai menampakkan taringnya. Dan masing-,asing pendukungpun saling memberi tepukan penambah semangat. Theresiana memimpin tiga angka. Dwi sedang berusaha melakukan rebound. Sementara pemain dari team Theresiana berusaha menghalang-halangi konsentrasi Dwi. Namun demikian, Dwipun berhasil melakukan rebound. Bola dalam genggamannya untuk saat ini. Dwipun langsung mendrible bola menuju ring musuh. Tetapi saat dia sedang melakukan ancang-ancang untuk lay upnya, pemain theresiana memblok gerakan Dwi. Bolapun diberikan ke aku dan kemudian melakukan shooting.
Pertandingan kini sudah memasukin quarter terakhir. Bola masih dipegang oleh team lawan.
“Ayo-ayo SMANDA!!!! Go SMANDA!!!….”, teriak para supporter dari SMAku. SMANDA adalah sebutan untuk SMAN 2 Salatiga.
Pemain lawan sedang siap-siap untuk melakukan shooting three point. Bolapun meninggalkan tangan pemain lawan dan sedang melayang di udara mengarah ke arah ring basket. Dan…..
BLUMMM!!!……, suara bola yang berhasil memasukin ring basket. Dan tambahan tiga point untuk Theresiana High School. Dwi bersiap-siap melakukan passing. Matanya tertuju ke arahku. Dan aku mengetahui apa maksudnya. Akupun berlari ke tengah lapangan, Dwi mulai melepaskan bola dari tangannya. Sementara aku sedang bersiap untuk menangkap bola. Dan bolapun sudah dalam genggamanku. Aku langsung mendrible bola menggiringnya menuju ring.
Kurang lebih lima meter dari ring basket, aku melakukan jump untuk melanjutkan dengan aksi dunk yang akan aku lakukan. Bolapun berhasil masuk. Namun, dunk yang barusan aku lakukan hanya memberikan point satu angka.
Pertandingan semakin memanas. Bola kembali berada di tanganku. Kini saatnya aku akan melakukan aksi three point shootku untuk mengejar ketinggalan angka.
Akupun sudah pada posisi three point shoot, bola mulai meninggalkan telapak tanganku dan melayang di udara. Dan tiba-tiba suara peluitpun terdengar. Tanda pertandingan telah usai. Sementara hasil three point shootku gagal. Kedudukan 94-92 untuk theresiana High School.
“Yeee!!!!……. Hore,……, final. Kami datang”. Teriak para pemain Theresiana.
Sementara itu kami team SMANDA, meninggalkan lapangan dengan bercucuran keringat dan perasaan kecewa. Semuanya tertunduk malu, bahkan ada yang sampai harus berlinang air mata.
Saat mendekati pinggir lapangan, aku melihat Ara berdiri sambil memberikan tepukkan ketabahan. Ia tersenyum dan berkata….
“Ayo!!! Masih ada tahun depan. SMANDA!!!….., SEMANGAT!!!.”.
Aku yang melihat responnya terhadap hasil pertandingan kami itu jadi merasa terharu dan hamper mengeluarkan air mata.
“Ra, maafin gua. Gua kurang maksimal. Sekali lagi maafin gua….”. ucapku sambil membungkukkan badan pertanda rasa bersalahku.
Namun, Ara hanya membalasnya dengan senyuman dan menepuk pundakku.
“Sudah mal, tidak apa-apa. Maafin gua juga, seharusnya elo masuk dari quarter pertama. Ohya, ada yang nyariin tuh diparkiran motor lo.” Ucapnya sambil menunjuk kea rah parkiran dimana motorku diparkirkan.
“Gimana pertandingannya? Pasti Jamal capai banget ya.”, Suara cewek yang sudah tidak asing lagi di telingaku saat aku tiba diparkiran.
“NITA???….”, balasku saat aku menyadari siapa cewek yang menyapaku tadi.
“Iya, gimana hasilnya? Maaf, aku baru datang. Tadi habis acara Maulud Nabi di Masjid Agung.” Ucapnya.
“Ah, iya. Nggak apa-apa kok. Eh, tadi…., kami kalah. Nggak jadi masuk final. Ehm, terus pulang kan? Aku anterin yuk.”.
Akupun langsung menyalakan mesin motorku dan menjalankannya untuk kemudian mengantarkan Nita pulang kerumah. Sepanjang perjalanan pulang, ia menceritakan semua yang terjadi.
Esoknya disekolah, saat melihat pengumuman tentang penjurusan. Aku melihat pada papan pengumuman dan disana tercantum namaku dan Nita masuk di jurusan Bahasa. Ya, dari kelas satu kami memang sangat menyukai pelajaran bahasa. Terutama sastra. Walaupun, bahasa Inggrisku tidak begitu lancar. Bicara soal bahasa, aku jadi teringat dengan sobatku si jago bule, Dwi.
“Jemal…….., akhirnya kita juga satu kelas.”. Teriak Dwi yang baru saja datang.
“Ha?… Oh my god!…”, balasku.
Di tahun ajaran yang baru ini, aku akan lebih berusaha lagi. Berusaha untuk menjadi MVP. Dengan posisi ku sekarang di team basket sebagai kapten baru. Ara, mantan kapten kami kini sudah lulus, ia melanjutkan studinya di Universitas Indonesia.
“Ayo, SMANDA!!!! Apa tujuan kita?!!…”, teriakku Pada anak kelas satu.
“PIALA LIGA HEXOS!!!…”, Teriak seluruh anggota team.
Api semangat mulai menyala dalam jiwa kami. Dengan nuansa baru, posisi yang baru, serta manajer yang baru, belahan Jiwa hatiku, Nita. Kami pasti bisa meraih impian kami.

SELESAI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: