h1

Dari Kampus Untirta menuju ujung Kulon

November 13, 2009

Fenomena Alam yang Tak Terlupakan
Oleh: Muhammad Akmal Komara/ jurnalistik/ 050785

“Bsk kmpul jam 7pg.
Bw:
Tiker bwt tdr
Ftkopi ktp/ktm bwt asuransi
Makanan bwt 2kali mkn d htn
Air bwt 3 hari
Sofell
Senter
Garem
Pake sepatu
Makanan ringan sckp’a
Obt2 pribadi
Bju sckp’a
Jng lupa sarapan dulu di rumah msng2! “ sebuah pesan SMS yang dikirim oleh panitia ekspedisi Ujungkulon ke nomor ponselku.
Selasa pagi, kami mahasiswa Komunikasi Fisip Untirta konsentrasi Jurnalistik tengah berkumpul di depan gedung Fakultas untuk bersiap-siap berangkat menuju ujungkulon. Semuanya telah berkumpul dan sedang menunggu kepala Jurusan untuk melepas keberangkatan kami. Dan tak lama KepalaJurusan atau Kajur komunikasipun datang. Kamipun melakukan upacara pelepasan sejenak. Dalam upacara pelepasan Kajur Komunikasi berpesan,
“Ya, semoga sukses. Selamat sampai tujuan dan kembali lagi ke serang dalam keadaan tidak kurang sedikitpun.”
Sebelum berangkat kami tak lupa untuk memanjatkan do’a kepada sang khaliq. Dan do’a dipimpin oleh ketua panitia kami Prasetyo. Upacara pelepasan usai dan kami siap-siap menaruh barang bawaan kedalam bus kampus. Bus kecil berwarna merah dengan logo kampus untirta di samping kanan kirinya. Tentunya dengan driver tetapnya Mang Nur.
Mang Nur adalah sesosok pria sudah agak tua kira-kira sudah berumur 40an. Dengan perawakan badan yang pendek rambut ikalnya, beliau masih sangat gesit dalam mengendarai bus kebanggaan masyarakat kampus.
Sekitar pukul 08.30 WIB kami pun meluncur meninggalkan lingkungan Kampus Universitas Sultan Agung Tirtayasa. Mang Nur sang Driver yang dengan keahlian menyetir profesionalnya bak pembalap F1 GP memacu si Merah dengan kecepatan tinggi. Melesit dan menyalip dengan gesitnya kendaraan sepanjang kota Serang.
“Woy, Yoi mang Nur. Pelan-pelan mang Nur!” teriak salah satu mahasiswa jurnalistik yang entah merasa takut atau justru terhanyut menikmati si Merah yang melaju dengan kencangnya.
Dalam waktu kurang dari setengah jam kami pun telah sampai di Kabupaten Pendeglang. Sebuah perjalanan yang tercepat yang pernah aku alami antara Serang dan Pandeglang. Biasanya aku dengan mengendarai sepeda motor hanya bisa menempuh waktu setangah jam. Dari sini kamipun langsung menuju ke Balai Taman Nasional Ujung Kulon yang ter letak di daerah Labuan Kabupaten Pandeglang.
Pukul 10.50 WIB, kami sampai di Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Kami pun beristirahat sejenak untuk melakukan absen dan ijin untuk memasuki Taman Nasional Ujung Kulon.
Pukul 11.00 WIB dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon memberikan pengarahan dan sedikit Pembekalan kepada kami tentang keadaan Geografis, sejarah terbentuknya Taman Ujung Kulon sampai waktu diresmikannya dan perluasan Wilayah Taman Nasional. Baik hutan lindungnya maupun satwanya.
“Kawasan Taman Ujung Kulon ini awal mulanya di perkenalkan oleh Junghun yang berkebangsaan Jerman pada tahun 1846.” Ucap Staf Balai Taman Nasional Ujung Kulon kepada kami saat Pembekalan di ruang audio visual Balai Taman Nasional Ujung Kulon.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Semenanjung Ujung Kulon dan P. Panaitan ditetapkan sebagai Suaka Alam tepatnya pada tahun 1921. Tahun 1937 diubah menjadi Suaka Margasatwa dengan penambahan P. Peucang dan P. Panaitan. Baru setelah masa kemerdekaan diubah kembali menjadi Suaka Alam dengan Penambahan kawasan Perairan laut tepatnya pada tahun 1958. Pada tahun 1980, mulai dikeola dengan SISTEM MANAJEMEN TAMAN NASIONAL. Pada tahun 1992 menjelang masa Reformasi di tahun 1998/1999, Ditetapkan sebagai kawasan TAMAN NASIONAL dengan wilayah meliputi : Semenanjung Ujung Kulon, Gunung Honje, Kep. Handeuleum, Pulau Panaitan dan Pulau Peucang. Ditahun yang sama ditetapkan pula sebagai THE NATURAL WORLD HERITAGE SITE oleh Komisi Warisan Alam Dunia UNESCO.
Itulah sejarah singkat mengenai Taman Nasional Ujung Kulon yang di terangkan oleh staf Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Ujung Kulon di tetapkan sebagai Taman Nasional oleh Pemerintah di karenakan memiliki potensi yang cukup tinggi baik tumbuhan maupun satwa, khususnya satwa langka Badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus), perairan laut di sekitarnya memiliki potensi yang cukup tinggi untuk dikembangkan sebagai obyek wisata bahari, penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Dengan seiring berjalannya waktu Taman Nasional Ujung Kulon semakin mengalami kemajuan. Ini di tunjukan dengan bertambahnya luasan wilayah yang terlindungin dengan aneka ragam hayati dan satwanya. Namun begitu para petugas dari Taman Nasional ini masih harus berjumpa dengan banyak permasalahan. Terutama ini datangnya dari penduduk asli yang telah lama dan dahulu tinggal di daerah yang telah di tetapkan sebagai kawasan Taman Nasional oleh Pemerintah.
Mereka para penduduk yang telah dahulu bermukim sering melakukan pelanggaran dengan menambah perluasan tanah wilayah tanam tanamannya. Walau sebelumnya telah disepakati oleh surat perjanjian antara Pemerintah dengan warga sekitar. Ironis memang, bagi mereka yang telah lama tinggal di tanah nenek moyang mereka harus menerima perjanjian luas batasan wilayah dengan Pemerintah. Masyarakatpun harus menuruti aturan main dari Pemerintah dan sedikit toleran.
Dalam tiap pergantian Presiden maka tak sedikit struktur yang ikut berganti pula mengikuti pola permainan dari pemimpin yang baru. Lembar Perjanjian yang di pegang oleh masyarakatpun sudah tidak sah lagi. Oleh karena itu dalam beberapa tahun belakangan ini tepatnya di tahun 2000-an banyak terjadi kasus pembalakan liar atau biasa disebut dengan illegal logging.
“Masyarakat yang telah memegang surat perjanjian dengan pengelolo sebelumnya merasa telah melakukan hal yang benar sesuai dengan apa yang telah tertulis. Padahal itu sudah bias dikatakan sebagai tindakan illegal logging.”ucap staf Balai Taman Nasional kepada kami.
Sering kali dalam persidangan kasus illegal logging ini masyarakat hanya bias menggunakan surat perjanjian yang telah “basi” untuk melakukan pembelaan. Sungguh ironis benar aku mendengarnya dari staf Balai Taman Nasional. Lalu, kenapa tidak di buat surat perjanjian yang baru? Tanyaku dalam hati.
Dimana ada perbuatan di situ ada pertanggung jawaban. Sebuah falsafah hidup yang hingga kini selalu aku pegang. Tepat di tahun 2006 pada tanggal 4 Nopember, disaat POLHUT menangkap salah satu pelaku illegal logging, Masyarakat mengamuk dan membakar beberapa kantor POLHUT Taman Nasional UjungKulon. Ini di karenakan pelaku illegal logging yang tertangkap tersebut berusaha melarikan diri sehingga membuat POLHUT memberikan tembakan pada pelaku dan pelakupun tewas ditempat. Sehingga memicu masyarakat melakukan tindakan pengrusakan dan pembakaran beberapa asset Taman Nasional.
Tindakan inipun menyebabkan beberapa anggota masyarakat yang terlibat dalam aksi pengrusakan itu berurusan dengan pihak yang berwajib. Perih memang mendengarnya sekaligus bingung antara siapa yang salah. Masyarakat atau pihak Taman Nasional?
Setelah mendengar panjang lebar penjelasan tentang Ujung Kulon dari staf Balai Taman Nasional kamipun ber istirahat sejenak dan makan siang. Sedikit berfoto-foto ria seolah melupakan apa yang telah kami dengarkan tadi. Dan setelah semuanya beres, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Dalam Perjalanan menuju Lokasi Taman Nasional, seperti halnya sedang pergi piknik, kami semua menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Apalagi di tambah dengan kami berjumpa salah satu personel dari grup band Kerispatih yang sedang melakukan pemotretan prewedding, sekiranya itu yang dikatakan oleh Azwar mahasiswa Jurnalistik Ilmu Komunikasi untuk meledek dosen Fotografi yang hingga saat tulisan ini aku bikin, beliau belum menemukan dambaan hati pendamping hidupnya. Sebenarnya beliau adalah salah satu Fotografer dari kantor berita Antara. Hal ini menambah sorak soray dari temen-temen Jurnalistik Ilmu Komunikasi.
Tak lama setelah sekian jam perjalanan kami, semua mulut anak-anak mahasiswa jurnalistik Ilmu Komunikasi angkatan 2006 ini terkunci rapat oleh lelahnya perjalanan yang tidak kunjung sampai-sampai. Akhirnya di tengah perjalanan yang sebenarnya tinggal sedikit lagi, entah ide dari siapa, kamipun berhenti sejenak di sebuah warung bakso dan mie ayam. Kamipun langsung keluar bus dan segara merebahkan badan pada kursi yang ada pada warung mie ayam bakso tersebut.
“Wooaaam,,,,,!” Aku yang menguap sambil menarik tanganku ke atas sebagai pelepas lelah dari perjalanan kami.
“Wah ini masih tiga jam lagi. Ya, kira-kira jam empat lah kita nyampe.”ucap Mang Nur sang Driver Bus Merah memecah lelah.
Waduh, harus refill tenaga dulu nih. Tapi jangan sampai kepenuhan. Pikirku.
Cukup lama kami ber istirahat dan energy mulai terisi kembali. Perjalananpun kami teruskan. Teman-teman mahasiswapun mulutnya mulai terbuka lebar dan bercanda ria kembali. Dari yang mengomentari lamanya perjalanan sampai kepada menggoda bunga desa yang kami lihat dari dalam bus.
Hem, akupun bergumam dalam hati dan berpikir dalam hati apa jadinya kalau pacarku ikut dalam ekspedisi ini. Tentu aku akan di sindir habis olehnya. Mengingat kebiasaan ku yang suka ikut-ikutan menggoda anak cewek cantik lewat. Tapi, anak gadis desa yang kami lihat itu benar-benar cantik. Sampai-sampai salah satu teman kamipun berkomentar.
“Anjrit, dipelosok kayak gini ada juga ya cewek cantiknya?” ucapnya sambil terus melihati seiring laju jalannya bus yang bergoyang ria oleh karena jalannya yang sudah rusak parah.

Dan setelah melewati jalan sempit yang sudah rusak parah dengan dihibur oleh goyangan indah dari si Merah yang membuat perut kami mual-mual tak karuan, kamipun sampai di pos Resort LegonPekis. Sebuah Pos POLHUT sekaligus tempat peristirahatan kami untuk malam pertama kami di Taman Nasional.
Sebuah tempat penginapan yang cukup mewah yang seolah di sajikan untuk kami para calon wartawan yang sedang melakukan prosesi training untuk menjadi wartawan sejati. Tempat itu tidak ada listrik dan tak ada mesin pompa air. Hanya ada lampu petromakh dan sebuah sumur yang ada di belakangnya sebagai fasilitas yang telah di tawarkan. Dan kamipun dengan terpaksa harus menerimanya dan menikmati istirahat tidur malam.
Keesokan harinya kami semua harus sudah bangun pada pukul 5 pagi. Kami bangun dengan mata yang masih terasa sangat berat dikarenakan serangan panas dari sejumlah batalyon pasukan nyamuk. Kami semuanya tak dapat tidur nyenyak. Kecuali Azwar, aku menyebutnya si Raja tidur. Sebab hanya dia yang dengan lelapnya tertidur pulas diantara serbuan para nyamuk ganas.
Setelah bersiap dan dengan kondisi yang sudah segar oleh guyuran dinginnya air sumur di pagi hari, kamipun siap melakukan ekspadisi selanjutnya. Yakni berjalan kaki sejauh 3jam kedalam hutan belantara dan lumpur.
Bersama dengan guide dari resort LG PAKIS, aku, fitrah dan ebok, berada di posisi terdepan. Dengan penuh semangat gegap gempita empatlima aku melangkahkan kakiku tanpa ada rasa lelah. Namun, di saat ujung dari sebuah jalan darat, semangatku sedikit mengendur. Sebab, kami harus melewati sebuah Jembatan Kayu yang oleh kami harus satu-persatu dalam melewatinya. Dapat dibayangkan sudah berapa tahun jembatan itu.
Sebuah Jembatan yang terbuat dari tumpukan kayu yang di gantungkan oleh kawat besi yang sudah karatan. Tentu dengan ribuan Ubur-ubur yang telah menanti jika kami terjatuh dalam muara sungai handeulem. Dengan terus ber Basmallah aku meniti perlahan-lahan jembatan kayu itu.
Dalam batin aku berkata, aku tak mau jatuh mati sia-sia tersengat oleh ribuan ubur-ubur dengan kedalaman airnya tiga meter. Aku harus konsentrasi penuh meniti jembatannya. Sebab, jika aku benar-benar terjatuh. Habislah sudah. Aku tidak bisa berenang.
Dikarenakan di barengin dengan tekat yang kuat dan perjuangan untuk tetap dapat hidup, akupun berhasil melalui jembatan kayu tersebut. Satu-persatu kamipun menyebrangi jembatan kayu tersebut. Lalu berkumpul sejenak untuk menikmati pemandangan dan berfoto ria. Akan tetapi di balik tawaria kami itu kami sempat cemas dan merasa was-was. Ini di karenakan dosen mata kuliah Penulisan Feature kami tersungkur kedalam air yang penuh dengan tanaman duri. Beliau tersungkur setelah menyebrangi jembatan kayu dan berpijak pada tanah yang lapuk, sehingga beliaupun tersungkur ke dalam air. Tidak ada luka parah maupun kerugian materiil, sebab beliau membawa sebuah kamera digital dalam tas ranselnya. Hanya sebuah luka baret dan tusukan duri yang tertinggal di telapak tangannya. Namun, kejadian itu tidak ada satupun dari kami yang mengabadikannya. Sebagai bentuk perjuangan dari dosen kami yang rela ikut terjun langsung bersama mahasiswanya.
Setelah beristirahat sejenak kamipun mulai melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami sudah memakan waktu lebih dari dua setengah jam sudah. Badan sudah mulai terasa sangat pegal memanggul tas ransel di punggung. Namun kami tetap bersemangat. Tak lama langit mulai di selimuti oleh awan hitam, langitpun menjadi mendung dan kami pun lebih mempercepat langkah kaki kami.
Lima belas menit berlalu, langit mulai meneteskan rintik-rintik hujan. Teman-teman mahasiswa mulai sedikit panic. Tidak mungkin kalau sampai kehujanan ditengah-tengah hutan belantara yang mesih teramat asli. Tak dapat dibayangkan kalau ada binatang-binatang yang berlarian karena panik oleh hujan. Teringat akan itu kamipun menjadi lebih mempercepat langkah kaki kami.
Dalam beberapa meter lagi dari pos yang terakhir kami menemukan beberapa jejak kaki Badak Bercula satu. Sungguh beruntung tapi kurang beruntung. Sebab, aku tidak membawa kamera digital dan temanku juga tidak ada yang mengabadikannya.
Dan tibalah kami di pos terakhir dari perjalanan kami ini. Disebuah Pos Resort Karang Ranjang. Dengan disambut oleh suara desiran ombak Laut Pantai Selatan yang kian ge4muruh seolah menghilangkan perasaan capai kami untuk sesaat dan tertidur lelap kala malam. Walaupun tidur malam kami harus ditemani oleh derasnya hujan dan kilatan petir yang menyambar tidak sedikitpun menghilangkan rasa kebersamaan kami dan kamipun dapat tertidur lelap.
Keesokan paginya kami disambut oleh derasnya tetesan air hujan yang masih mengguyur. Dengan kondisi perut yang tak karuan, antara lapar dan hasrat untuk buang air. Dari sejak kami tiba di pos yang terakhir, kebanyakan dari kami pada belum buang air besar atau setoran pagi. Akhirnya perasaanpun bercampur aduk. Tegang, kesal, sedih dan lapar yang terbungkus rapat oleh rasa sabar.
Sabar adalah kunci dari permasalahan kami yang sedang di hadapi. Ada peribahasa mengatakan. Orang sabar di sayang tuhan. Dan doa orang yang teraniaya pasti terkabul.
Yup semua itu benar, Tak lama setelah kami semua merintih kelaparan, akhirnya makananpun dating. Sebaskom Nasi dengan Indomie kuah dating di hadapan kami. Tapi dikarenakan jumlah makanan yang terbatas, kamipun harus saling berbagi dalam satu baskom di rumbuk lima orang.
Dengan perasaan menahan airmata dan perasaan perut yang tidak karuan, kamipun mulai menyantap sarapan pagi kami yang dirasa cukup lezat dan patut untuk di syukuri. Dan setelah makan, kami bergegas bersiap-siap untuk pulang karena hujan mulai reda.
Sebelum berangkat kami menyempatkan untuk berfoto-foto dahulu. Sebagai kenang-kenangan dari apa yang telah kami lalui. Dan ta lama kamipun mulai melakukan perjalanan pulang. Dengan trak yang sama dengan kondisi yang berbeda. Dikarenakan turun hujan, jalur yang akan kami lalui terendam oleh air. Dengan sangat terpaksa dan didorong oleh hasrat ingin segera sampai di rumah, jalan air pun tak jadi masalah buat kami.
Langkag lebih kami percepat lebih cepat dari sebelumnya. Kami terus berjalan tanpa menghiraukan rasa lelah dan perut yang tak karuan. Banyak duri yang menancap di kaki kami. Untungnya tak satupun dari kami yang terkena duri beracun ataupun gigitan lintah.
Setelah satu setengah jam perjalanan, aku mulai sedikit kehilangan keseimbangan. Aku mulai lelah dan kecapaian. Lalu akupun mengambil vitamin alias dopping penguat agar aku dapat memulihkan tenagaku lagi.
Dalam perjalanan yang kian berlumpur aku sempat terpeleset dan kepalaku beberapakali terbentur oleh dahan pohon yang melintang rubuh akibat terpaan hujan deras waktu malam aku terus berjalan dan tak menghiraukan yang lain. Yang ada otakku hanyalah “gua harus sampai”, “gua harus pulang”.
Kata-kata it uterus terngiang dalam pikiranku. Sehingga aku tetap semangat dalam menempuh semua rintangan bahkan jembatan kayu ubur-ubur sekalipun. Kamipun tiba kembali di Kampus Untirta Pukul Sepuluh Malam. Kondisi kampus yang sepi sunyi seolah menghanyutkan kami dalam lelap malam panjang. Pengalaman UjungKulon merupakan pengalaman yang tak terlupakan namun bikin kapok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: